twitter
facebook
multiply
tumblr

Kamis, 25 Juli 2013

Resume MBC Day-10

Rabu, 24 Juli 2013, siang hari pada pukul 13.44, selasar basement Labtek VIII kembali dipenuhi oleh para peserta dan panitia Masa Bina Cinta. Lagi-lagi, kami, Eltoro, tidak dapat memenuhi kuorum 210 dan hanya dapat menghadirkan peserta sebanyak 169 orang. Hal ini tentu saja mengecewakan seniro dan senorita, yang kemudian berujung pada pemberian konsekuensi angkatan kami. Kami diminta untuk menuliskan minimal delapan puluh kata alasan mengapa angkatan kami hanya sekali saja dapat memenuhi kuorum fisik (yaitu pada saat wisudaan) selama MBC berlangsung. Alasan tersebut dituangkan ke dalam blog angkatan Eltoro di menu Tentang Kami dan kami harus meng-share link tersebut ke berbagai jejaring sosial yang kami punya.

Dan sebelum apel pagi berakhir, Seniro Reinhart menyatakan bahwa setiap manusia itu unik dengan kemampuannya masing-masing yang harus dikembangkan. Kami juga diharuskan untuk bersemangat dalam menjalankan MBC Day-10 ini.

Oleh Bandito Nurhadi Nugraha, kami dijelaskan mengenai salah satu badan otonom HME yang dari tahun 2005 telah banyak meraih penghargaan dari dalam kampus hingga internasional. Terinspirasi dari satelit domestik pertama yang dibuat oleh salah seorang dosen ITB, Bapak Iskandar Alisjahbana, nama 'palapa' dicanangkan. Palapa memiliki filosofi sebagai janji dari Mahapatih Gadjah Mada yang berkeinginan untuk menyatukan nusantara dan diharapkan nama ini dapat diabdikan untuk membantu masyarakat.

Awalnya, 'palapa' merupakan nama dari proyek pembangkit listrik tenaga air (PLTA) di Desa Jayamukti, Kecamatan Cihurip, Kabupaten Garut, yang dipelopori pada tahun 2006 oleh mahasiswa Elektroteknik ITB angkatan 2005, yaitu Palapa Jaya. Teknologi yang digunakan adalah pembangkit listrik skala pikohidro dengan daya yang dihasilkan sekitar 5 kW. Direalisasikan pada tahun 2007. Pada tahun 2008, proyek perdana ini diresmikan dan ternyata mengundang perhatian publik hingga disiarkan di acara Tunas Bangsaku di sebuah channel televisi swasta.



Masih di Kabupaten Garut, proyek kedua Palapa, yaitu Palapa II, dilaksanakan di Desa Mekarwangi. Diketuai oleh Ramadhani Wahono. Teknologi yang digunakan adalah pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) 10 x 100 Wp. Proyek ini dimulai dengan survei pada tahun 2008, pengerjaan pada tahun 2009, hingga pada tahun 2010 akhirnya selesai dan diresmikan.

Di tempat yang sama dengan proyek Palapa II, proyek ketiga Palapa, Palapa III, dimulai dengan survei pada Agustus 2011 dan dieksekusi pada tahun 2012. Diketuai oleh Muhammad Fariz. Selain meng-maintenance dan mengganti baterai PLTS yang merupakan proyek Palapa II, Palapa III turut andil dalam kegiatan sosial, seperti pembuatan rumah belajar Palapa III serta pembangunan peternakan domba dan ikan lele. Kegiatan lainnya antara lain: Road to Palapa IV, pelatihan dan training community development, camping, simulasi Live-in, kunjungan ke Ibeka, KKN Tematik ITB, Ekspedisi Pelita Muda, Gebrak Indonesia, dan Wae Rebo Power.

Wae Rebo Power merupakan kegiatan yang berfokus pada pengembangan pembangkit listrik tenaga mikrohidro untuk menggantikan teknologi pembangkit tenaga listrik sebelumnya, yaitu generator diese, yang berada di Wae Rebo, Flores, Nusa Tenggara Timur. Pembangkit listrik tenaga mikrohidro ini bermanfaat dalam pengolahan komoditas utama daerah Wae Rebo yaitu kopi.

Setiap daerah yang menjadi tempat tujuan dari proyek tersebut memiliki kepengurusan terhadap pembangkit tenaga listrik dari Palapa, misalnya dengan menjadikan beberapa orang warga setempat sebagai operator. Dibalik semua proyek tersebut, Palapa memiliki kendala terutama dalam masalah maintenance dan kontrol akibat jarak yang jauh sehingga laporan akan lambat diterima apabila terjadi kerusakan pada alat.

Campur tangan PLN belum ada sebelum proyek Palapa II. Namun, seterusnya hingga sekarang, tim Palapa telah berkoordinasi dengan PLN daerah. Terbukti dengan telah dibangunnya jaringan listrik PLN di Desa Jayamukti. Teknologi rangkaian dari Palapa I memang sudah ditinggalkan, namun masyarakat di sana selalu menjamu dan menyambut dengan hangat setiap kunjungan tim Palapa yang telah mengabdi di desa mereka.

Keempat proyek Palapa tersebut dapat digolongkan ke dalam community development. Berbeda dengan community service yang juga bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat, community development bersifat bottom-up solution dan berkelanjutan. Urutan tahapan community development ialah identifikasi sosial, identifikasi program, penilaian program, aplikasi program, monitoring dan evaluasi, audit sosial, dan pemberian masukan bagi komoditas/program selanjutnya.

Mengapa kita perlu melakukan community development? Mahasiswa, sebagai masyarakat sipil yang terpelajar, berkewajiban untuk mengabdi pada masyarakat, yang disebutkan dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi; pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat. Tak lupa pula, kita, sebagai mahasiswa, memiliki empat peran penting, yaitu sebagai iron stock (generasi pengganti), agent of change (agen perubahan), guardian of value (penjaga nilai), dan role-model.

Setelah penjelasan yang panjang tentang Palapa dan community development, kami dipersilakan untuk sholat ashar dan beristirahat selama tiga puluh menit hingga pukul 15.45. Kami kemudian memperoleh materi mengenai skill problem solving yang dibawakan oleh Bandito Alan Yudhautama.

Dalam memecahkan masalah, sebagian besar orang akan mencari gambaran besar dari masalah, menemukan framework, dan melakukan penyelesaian. Pola umum penyelesaian masalah adalah mengidentifikasi masalah, menganalisa masalah, membuat strategi, dan mengeksekusi solusi. Framework yang biasa digunakan adalah D.S.P.A. yang merupakan singkatan dari define the problem, structure the problem, prioritize issues, dan action plan. Saat melakukan pendefinisian masalah (define the problem>, masalah harus didefinisikan dengan S.M.A.R.T. (specific, measurable, actionable, realistic, time bond). Saat membuat struktur masalah (structure the problem), digunakan Issue Trees yang merupakan solusi-solusi yang terbagi dalam bagan mulai dari yang umum hingga solusi yang spesifik. Dalam membagi prioritas solusi (prioritize issues), digunakan Impact-Effort Matrix yang merupakan matriks yang membagi solusi berdasarkan usaha yang dikeluarkan (effort) berbanding dengan dampak yang dihasilkan (impact), mulai dari yang rendah hingga yang tinggi. Setelah membuat skala prioritas, solusi direalisasikan sesuai urutan skala prioritas.

Kemampuan problem solving sangat dibutuhkan mahasiswa dalam menghadapi masalah dan membuat skala prioritas.

Pemberian materi pun selesai. Seniro dan senorita kemudian memberikan kami tugas mengenai proyek angkatan berupa kegiatan community service dengan penanggungjawab juniro Andas. Proyek angkatan harus direalisasikan maksimal dua bulan mulai dari 24 Juli 2013. Buku lintas angkatan juga dilanjutkan terutama bagi peserta yang belum mencapai jumlah yang ditentukan, dengan tambahan mewawancarai dua bandito atau maharani untuk seluruh peserta.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.